
Selain sebagai kawasan pertanian yang lestari, Jatiluwih juga menyimpan peninggalan dari jaman megalitik berupa tahta batu atau bebaturan di sejumlah pura. Salah satunya adalah Pura Luhur Sri Rambut Sedana.
Pura Luhur Sri Rambut Sedana, terletak di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pura yang terletak di kawasan hutan lindung di lereng Gunung Batukaru ini masih sangat alami. hanya terdapat beberapa pelinggih pemujaan, yang sebagian besar masuh berupa babturan atau tahta batu, yang diyakini merupakan peninggalan tradisi megalitik di jaman perundagian.
Pura yang luasnya kurang lebih 8 are ini, merupakan salah satu stana Ida Btara Rambut Sedana. Dewa Kesejahteraan. Karenanya diyakini bahwa dengan bersembahyang di pura ini, seseorang akan dimudahkan rejeki dan kesejahteraannya.
Di pura yang pujawalinya jatuh pada Buda Wage Klawu ini, masyarakat dilarang sembarangan mengambil kayu atau pepohonan, kecuali untuk kepentingan upacara. karenanya banyak pohon pohon besar yang usianya bahkan telah mencapai ratusan tahun kemudian disucikan. seperti Bunut, Kayu Bukak, Kayu Base, dan Cempaka Kuning.
Selengkapnya...
Selasa, 17 November 2009
Pura Luhur Sri Rambut Sedana
Sabtu, 14 November 2009
Pura Tirta Sudamala

Keberadaan pura yang berhubungan dengan air di Bali di percaya membawa berkah baik kemakmuran maupun pembersihan. salah satunya adalah Pura Tirta Sudamala di Desa Bebalang Bangli.
Pura Tirta Sudamala di Desa Bebalang Bangli ini sejak dulu diyakini mampu menciptakan aura pembersihan bagi siapa saja yang mandi dan melukat di pancurannya. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota Bangli. Berada di tengah lebatnya pepohonan yang masih sangat alami. Dan untuk mencapainya, kita harus melewati jalanan yang cukup curam. tapi tidak perlu khawatir, karena kondisi jalannya cukup bagus.
Pura Tirta Sudamala, memiliki sejumlah pancuran dengan ukuran dan ketinggian berbeda. Air pancuran berasal dari mata air di sekitar sebuah pohon bunut besar yang telah berusia ratusan tahun. mata air ini tidak pernah kering, meskipun saat sedang musim kemarau.
Aktivitas di Pancuran tentu tidak pernah sepi. karena airnya yang jernih, masyarakat Desa Bebalang dan sekitarnya memanfaatkan air pancuran sebagai air minum. Selain itu sungai yang mengalir jernih di sekitar pancuran, kerap digunakan untuk mandi. Air yang mengalir deras dari pancuran juga sering dimanfaatkan untuk pemijatan.
Pemandangan menarik bisa kita lihat saat Purnama dan Tilem. Pura Tirta Sudamala akan dikunjungi banyak umat hindu dari berbagai daerah untuk melakukan pembersihan fisik dan rohani melalui pengelukatan. Anda tertarik?
Selengkapnya...
Pura Luhur Pucak Adeng

Nama Pura Luhur Pucak Adeng, memang tidak sepopuler pura pura Dang Kahyangan lainnya di Bali. Namun bagi anda umat hindu penyuka perjalanan spiritual alias tirta yatra, bisa menjadikan pura yang terletak di puncak Bukit Adeng ini sebagai salah satu tujuan persembahyangan anda.
Pura Luhur Pucak Adeng terletak di puncak Bukit Adeng, di Desa Penebel Kabupaten Tabanan. Kerana letaknya diatas ketinggian yakni kurang lebih 700 m diatas permukaan laut, maka hawanya pun terasa lumayan sejuk. namun untuk mencapainya, kita harus mengerahkan ekstra energi untuk mendaki bukit. melewati jalan setapak, ditengah lebatnya hutan lindung kawasan gunung Batukaru. perluwaktu nyaris 2 jam untuk mencapai areal pura.
Terdapat beberapa pura di kawasan pura Luhur Pucak Adeng. Meliputi Pura Puseh, Pura Dalem Dasar, Pura Beji, Pura Penataran Pucak Adeng, dan pura Pucak Anyar. Nyaris semua pelinggih di areal pura masih berupa bebaturan atau tahta batu, yang diselimuti tebalnya lumut.
Suasana di sekitar Pura Luhur Pucak Adeng masih sangat alami. sesekali kita akan mendengar riuhnya suara kera dan burung liar yang saling bersahutan. selain itu di kawasan ini juga terdapat banyak pepohonan yang dilindungi karena kelangkaannya. Masyarakat yang datang tentu dilarang mengambil flora dan fauna di kawasan yang dilindungi ini.
Sebuah informasi tambahan untuk anda, karena hutan di kawasan Bukit Adeng masih sangat alami dan lembap, persiapkan diri anda, karena binatang penghisap darah sejenis pacet, sangat banyak di lokasi ini. selamat Bertirta yatra... :))
Selengkapnya...
Kamis, 12 November 2009
Pura Dalem Balingkang

Pura Dalem Balingkang, Desa Pinggan, Kintamani, Bangli. Lokasinya, dari Denpasar mengikuti jalur Denpasar-Singaraja lewat Kintamani. Dari Pura Pucak Panulisan menuju arah timur laut kira-kira 15-20 km. Tempatnya sangat unik dikelilingi Sungai Melilit, yang dianggap sebagai benteng utama menuju ke Kerajaan Balingkang di jaman Bali Kuno.
Keberadaan Pura Dalem Balingkang sebagai pura maupun sebagai Keraton Raja Bali Kuna tercatat dalam "Pengeling-eling Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng" yang dikeluarkan oleh Raja Jaya Kasunu sekitar abad ke-11. Raja Jaya Kasunu tercatat sebagai leluhur Raja Jaya Pangus Harkajalancana. Balingkang berasal dari kata "bali dan ing kang". Secara tuturan dan bukti tertulis, hal ini dikaitkan dengan pernikahan Raja Jaya Pangus Harkajalancana dengan wanita Cina bernama Kang Ci Wi. Ia adalah putri Tuan Subandar, seorang pedagang dari Cina. Maka digabunglah Bali-Ing-Kang jadi Balingkang.
Struktur Pura Dalem Balingkang termasuk unik, karena dulu konon dijadikan istana raja yang menghindari serangan raja lainnya. Untuk menuju ke areal puranya saja, kita terlebih dahulu harus melewati puluhan anak tangga. Di awal adalah kompleks Pura Tanggun Titi di ujung jembatan dan ada sumber air. Di sumber air ini kerbau disucikan sebelum mepepada.
Kompleks kedua setelah melewati tanah lapang yang dulu difungsikan membangun tempat penginapan, ada bangunan cangapit, yakni pintu masuk yang dilengkapi tempat duduk raja saat menyaksikan jro gede mepada mengelilingi pura.
Di jaba tengah, tak banyak bangunan, hanya ada paruman agung, stana Ida Bhatara Sami, serta palinggih Ratu Ayu Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Ci Wi dan ini amat diyakini oleh masyarakat Cina membawa berkah.
Di kompleks utama atau jeroan, dibangun pemujaan Puri Agung Petak dengan meru 11 dan meru 9. Juga dibangun pemujaan Dalem Balingkang dengan gedong bata dan meru 7. Ada pula bangunan balai panjang bertiang 24, bertiang 20, dan balai mundar-mundar bertiang 16.
Selengkapnya...
Grya Kongco Dwipayana

Di Tanah Kilap yang juga dikenal dengan sebutan Alas Muntig inilah Kongco Dwipayana berada. Konco yang berada ditengah hutan mangrove ini letaknya berdampingan dengan Pura Luhur Candi Narmada. Kedua tempat peribadatan tersebut merupakan contoh baik kerukunan antar pemeluk agama di Bali. Di Griya Kongco Dwipayana inilah kita bisa melihat persahabatan erat antara penganut Hindu (Siwa), Budda, dan Tao.
Adanya Grya Kongco Dwipayana ini menurut pendirinya Ida Bagus Adnyana,bermula dari ditemukannya tiga peninggalan kuno. Masing-masing berupa petilasan Batara Lingsir (Dewa Siwa), prasasti batu bertuliskan peristiwa Dinasti Ching sekitar 360 tahun silam, serta sebuah kolam suci.
Semntara struktur bangunan Grya Kongco Dwipayana tidak jauh berbeda dengan bangunan Pura, yang membagi halamannya menjadi beberapa bagian yakni nista, madya dan utama mandala. Sejumlah bangunan suci budha dan hindu bisa kita lihat disini, sejalan dengan mereka yang datang juga berasal dari 2 keyakinan berbeda.
Selain tempat pemujaan bagi Batara Lingsir (Dewa Siwa), serta Gedong Buddha dan Gedong Kongco yang masing masing ditujukan untuk sang Budha dan Dewi koan Im, Di Grya Kongco Dwipayana Tanah Kilap juga dipuja Dewa Panglima Armada (Sam Po Tay Jin/Sam Po Kong), Dewa Perang (Kwan Kong), Dewa Laut (Tian Shang Sheng Mu), Ratu Bagus Sakti Syahbandar (Ratu Mas Alan Ulun), Dewa Amurwa Bumi (Tho Di Kong), dan Dewa Na Cha Sakti.
Selain di merupakan tempat suci bagi penganut siwa dan Budha, yang juga istimewa di konco Tanah Kilap adalah adanya stana Dewi Chi Sian Nii, berupa tujuh dewi sebagai asisten permaisuri Kaisar Langit, yang merupakan perwujudan satu-satunya di Indonesia. Disini pulalah orang-orang lazim memohon keselamatan, kesehatan, membuka jalan keberuntungan, masalah perjodohan hingga rumahtangga. Perwujudan Tujuh Dewi Chi Sian Nii ini distanakan di atas kolam suci berbentuk siao pwe.
Kolam suci ini dipercaya mengandung mukjizat. Airnya tidak pernah meluap, tapi juga tidak kunjung habis. Air suci inilah lazim diberikan kepada orang-orang usai sembahyang, agar memperoleh berkah sesuai karma masing-masing.
Griya Kongco Dwipayana merayakan ulangtahun setiap 9/9-penanggalan cina. Sedangkan Dewi Chi Sian Nii dirayakan pada 7/7 setiap tahunnya.
Selengkapnya...
Sabtu, 29 Agustus 2009
Brahma Vihara Arama
Selama ini orang lebih banyak mengenal Bali identik dengan Hindu. Tidak banyak yang menaruh perhatian bahwa bali memiliki komunitas lain yang hidup rukun berdampingan dengan masyarakat hindu, yakni Budha. Nah kali ini kami akan mengajak anda untuk berkunjung ke salah satu tempat suci umat Budha di Kabupaten Buleleng. Namanya Brahma Vihara Arama.
Brahma Vihara Arama ini terletak di ketinggian perbukitan di desa tegehe kecamatan banjar kabupaten buleleng. Vihara yang memiliki pemandangan indah berupa perbukitan, gunung dan laut lepas ini, merupakan vihara pertama di Bali yang didirikan Bante Girri Rakhito Mahatera. Seorang Bikku keturunan Brahmana di Banjar.
Memasuki Brahma vihara Arama tak ubahnya seperti memasuki sebuah Pura. Karena desainnya sangat disesuaikan dengan arsitektur Bali. Halaman yang terbagi 3 yakni nista, madya dan utama mandala dihubungkan dengan anak tangga yang bertuliskan prinsip-prinsip ajaran budha.
Brahma vihara Arama memiliki sebuah tiruan borobudur dengan 5 stupa di bagian puncak. Saat prayaan hari besar umat budha, maka ribuan orang akan memenuhi tempat ini untuk melakukan pemujaan.
Selain itu, Brahma Wihara Arama juga terkenal sebagai tempat meditasi Vipasana. Meditasi untuk pencerahan. Hampir setiap hari tempat ini didatangi orang orang yang ingin mencapai ketenangan dan pencerahan lewat meditasi.
Tidak ada larangan bagi wanita haid maupun yang memiliki kematian dalam keluarga untuk datang ke Brahma Wihara Arama. Yang lebih menarik, Brahma Vihara Arama terbuka bagi siapa saja asalkan memiliki niat baik untuk mengetahui ajaran budha yang universal.
Selengkapnya...
.jpg)