
Kabupaten Jembrana yang terletak diujung barat pulau dewata memiliki sebuah tradisi unik yakni MEKEPUNG. Mekepung ini berbeda dengan atraksi sejenis seperti karapan api di madura, atau sapi grumbungan di buleleng. Mekepung menggunakan media kerbau sebagai hewan lomba.
Jembrana adalah daerah agraris. Kontur tanahnya sangat cocok dipakai sebagai lahan pertanian, peternakan hingga perikanan. Dari tradisi agraris ini pulalah kemudian berkembang sebuah atraksi menarik berupa balap kerbau atau mekepung. Seperti namanya, hewan yang dipakai adalah kerbau. Kerbau kerbau yang oleh masyarakat biasanya digunakan untuk membajak sawah, kemudian dipertandigkan dalam sebuah perlombaan.
Nah mekepung kali ini tampaknya akan berlangsung cukup seru. Sehari sebelum event, arena Makepung telah dipadati oleh para pelomba dari berbagai desa, dengan membawa kerbau-kerbau mereka yang terbaik. Bagi mereka yang cukup uang, mereka akan mengangkut kerbau kerbau tersebut dengan truk. Seangkan bagi yang tidak, ya sang kerbau cukup berjalan kaki sementara kereta ditarik ojek motor.
Menjelang subuh, keramaian makin terasa. Tak lama, kamipun berada ditengah-tengah kerumunan peserta dan kerbau kerbaunya. Kerbau-kerbau ini pelihara dan diperlakukan sebagaimana layaknya seorang atlit terbaik. Bahkan, menjelang perlombaan, kerbau-kerbau ini diberikan menu makanan yang khusus, penuh dengan ramu-ramuan yang menghasilkan extra energi. Tidak ketinggalan, mereka juga mendandani kerbaunya secantik mungkin. Bahkan kerbau kerbau ini juga diberi nama yang eksotis seperti : ongky, ardi laksana, ratu pantai selatan, dewi kencana ayu dan lain-lin
Mekepung biasanya menggunakan 2 ekor kerbau, sebuah kereta dan seorang joki diatasnya. Pesertanya selalu dibagi menjadi 2 yakni Ijogading timur dan ijogading barat dengan masing masing kostum hijau dan merah. Pemenang adalah mereka yang terlebih dahulu mencapai garis finish. Kerbau akan dipacu sekencang kencangnya. Meski cuaca terasa sangat panas, namun tidak serta merta menyurutkan antusias warga memberi semangat pada pasangan kerbau favorit mereka.
Selengkapnya...
Kamis, 12 November 2009
Mekepung
Relief Yeh Pulu

Bedulu adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar. Kurang lebih 25 km arah timur Kota Denpasar. Selain merupakan kawasan pertanian yang cukup subur, Desa Bedulu dikenal di kalangan dunia ilmu arkeologi, sebagai sebuah kawasan yang kaya akan tinggalan-tinggalan arkeologi dari jaman Bali kuno. Salah satunya adalah RELIEF YEH PULU.
Relief tua Pura Yeh Pulu terletak di sebelah tenggara Desa Bedulu. Berada ditengah-tengah persawahan, Relief yang merupakan relief terpanjang di bali ini, ditemukan oleh seorang punggawa kerajaan Ubud ditahun 1925, dan kemudian dipublikasikan Jawatan Arkeologi Belanda pada 1929.
Relief batu cadas kuno Yeh Pulu diperkirakan dibuat pada abad ke 15. Relief bernuansa magis dan penuh makna ini terpahat sepanjang 25 meter disisi tebing cadas, setinggi 2 meter.
Sejumlah penelitian pun telah dilakukan para pakar dari dalam maupun luar negeri untuk mengenali makna yang tersirat di balik relief dinding tebing batu cadas perbukitan ini. Sehingga kemudian banyak tafsir dan analisis yang muncul tentang makna di balik relief ini.
Tergambar jelas, pada relief diantaranya tergambar seorang laki-laki memikul guci, seorang nenek tua duduk santai, seorang Pertapa dengan tangan sembah sujud, di sebelahnya terdapat perempuan dengan sejumlah perhiasan kuno, tiga ekor kera, dan seorang laki-laki berambut panjang sedang menunggang kuda, dua orang laki-laki menyerang binatang dengan senjata tradisional, perkelahian antara katak dan ular, serta dua laki-laki memikul lima ekor babi, dan terakhir terlihat dengan jelas seorang perempuan memegang ekor kuda yang sedang ditunggangi seorang pria.
Secara keseluruhan tema cerita pada relief yeh pulu menggambarkan suasana kehidupan dalam hutan serta kehidupan sehari-hari dimasa Kerajaan Bali Kuno.
---------
Kata Yeh dalam bahasa daerah Bali berarti air dan Pulu adalah gentong. Nama Yeh Pulu sendiri diambil dari gentong atau tempat penyimpanan beras dimasa lalu, yang berada di tengah sumbu air yang disucikan, yang terletak di sebelah barat relief.
Sebagian besar tinggalan-tinggalan arkeologi di Desa Bedulu khususnya, dan Gianyar pada umumnya, berada tidak jauh dari sumber-sumber air. Demikian pula dengan relief yeh pulu ini.
Untuk menuju lokasi Relief Yeh Pulu, kita terlebih dahulu akan melewati jalan setapak dengan persawahan disekelilingnya. Disisi sepanjang jalan setapak yang ditata asri dan rapi ini, tampak tebing batu cadas dengan sumber-sumber air. Air yang berlimpah ini selanjutnya akan dialirkan ke areal persawahan di sekitar relief.
Monumen Yeh Pulu ini dilengkapi pula dengan sebuah tempat suci yang berfungsi sebagai pura subak, yang menambah suasana indah pada kompleks relief ini.
Disamping pahatan-pahatan klasik Bali, Relief Yeh Pulu juga memiliki Ceruk-ceruk atau goa. Ceruk-ceruk di selatan relief yeh pulu ini ditengarai sebagai tempat pertapaan Raja Bali Kuno terakhir,sebelum Bali runtuh ke tangan Majapahit pada 1343.
Relief Yeh Pulu merupakan salah satu diantara sekian banyak monumen sejarah Klasik Bali di zaman Bali Kuno pada abad ke 14 masehi. Relief ini sarat dengan pengetahuan seni, yang sampai saat ini masih lestari dan diemong oleh Krama Subak, sebagai salah satu organisasi klasik bali yang secara khusus mengatur Petani dan segala aspeknya di dalam menggarap tanah persawahan di Bali.
Kondisi ini tentu akan sangat membantu dalam pelestarian kawasan atau situs peninggalan bersejarah.
Selengkapnya...
Pura Dalem Balingkang

Pura Dalem Balingkang, Desa Pinggan, Kintamani, Bangli. Lokasinya, dari Denpasar mengikuti jalur Denpasar-Singaraja lewat Kintamani. Dari Pura Pucak Panulisan menuju arah timur laut kira-kira 15-20 km. Tempatnya sangat unik dikelilingi Sungai Melilit, yang dianggap sebagai benteng utama menuju ke Kerajaan Balingkang di jaman Bali Kuno.
Keberadaan Pura Dalem Balingkang sebagai pura maupun sebagai Keraton Raja Bali Kuna tercatat dalam "Pengeling-eling Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng" yang dikeluarkan oleh Raja Jaya Kasunu sekitar abad ke-11. Raja Jaya Kasunu tercatat sebagai leluhur Raja Jaya Pangus Harkajalancana. Balingkang berasal dari kata "bali dan ing kang". Secara tuturan dan bukti tertulis, hal ini dikaitkan dengan pernikahan Raja Jaya Pangus Harkajalancana dengan wanita Cina bernama Kang Ci Wi. Ia adalah putri Tuan Subandar, seorang pedagang dari Cina. Maka digabunglah Bali-Ing-Kang jadi Balingkang.
Struktur Pura Dalem Balingkang termasuk unik, karena dulu konon dijadikan istana raja yang menghindari serangan raja lainnya. Untuk menuju ke areal puranya saja, kita terlebih dahulu harus melewati puluhan anak tangga. Di awal adalah kompleks Pura Tanggun Titi di ujung jembatan dan ada sumber air. Di sumber air ini kerbau disucikan sebelum mepepada.
Kompleks kedua setelah melewati tanah lapang yang dulu difungsikan membangun tempat penginapan, ada bangunan cangapit, yakni pintu masuk yang dilengkapi tempat duduk raja saat menyaksikan jro gede mepada mengelilingi pura.
Di jaba tengah, tak banyak bangunan, hanya ada paruman agung, stana Ida Bhatara Sami, serta palinggih Ratu Ayu Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Ci Wi dan ini amat diyakini oleh masyarakat Cina membawa berkah.
Di kompleks utama atau jeroan, dibangun pemujaan Puri Agung Petak dengan meru 11 dan meru 9. Juga dibangun pemujaan Dalem Balingkang dengan gedong bata dan meru 7. Ada pula bangunan balai panjang bertiang 24, bertiang 20, dan balai mundar-mundar bertiang 16.
Selengkapnya...
Grya Kongco Dwipayana

Di Tanah Kilap yang juga dikenal dengan sebutan Alas Muntig inilah Kongco Dwipayana berada. Konco yang berada ditengah hutan mangrove ini letaknya berdampingan dengan Pura Luhur Candi Narmada. Kedua tempat peribadatan tersebut merupakan contoh baik kerukunan antar pemeluk agama di Bali. Di Griya Kongco Dwipayana inilah kita bisa melihat persahabatan erat antara penganut Hindu (Siwa), Budda, dan Tao.
Adanya Grya Kongco Dwipayana ini menurut pendirinya Ida Bagus Adnyana,bermula dari ditemukannya tiga peninggalan kuno. Masing-masing berupa petilasan Batara Lingsir (Dewa Siwa), prasasti batu bertuliskan peristiwa Dinasti Ching sekitar 360 tahun silam, serta sebuah kolam suci.
Semntara struktur bangunan Grya Kongco Dwipayana tidak jauh berbeda dengan bangunan Pura, yang membagi halamannya menjadi beberapa bagian yakni nista, madya dan utama mandala. Sejumlah bangunan suci budha dan hindu bisa kita lihat disini, sejalan dengan mereka yang datang juga berasal dari 2 keyakinan berbeda.
Selain tempat pemujaan bagi Batara Lingsir (Dewa Siwa), serta Gedong Buddha dan Gedong Kongco yang masing masing ditujukan untuk sang Budha dan Dewi koan Im, Di Grya Kongco Dwipayana Tanah Kilap juga dipuja Dewa Panglima Armada (Sam Po Tay Jin/Sam Po Kong), Dewa Perang (Kwan Kong), Dewa Laut (Tian Shang Sheng Mu), Ratu Bagus Sakti Syahbandar (Ratu Mas Alan Ulun), Dewa Amurwa Bumi (Tho Di Kong), dan Dewa Na Cha Sakti.
Selain di merupakan tempat suci bagi penganut siwa dan Budha, yang juga istimewa di konco Tanah Kilap adalah adanya stana Dewi Chi Sian Nii, berupa tujuh dewi sebagai asisten permaisuri Kaisar Langit, yang merupakan perwujudan satu-satunya di Indonesia. Disini pulalah orang-orang lazim memohon keselamatan, kesehatan, membuka jalan keberuntungan, masalah perjodohan hingga rumahtangga. Perwujudan Tujuh Dewi Chi Sian Nii ini distanakan di atas kolam suci berbentuk siao pwe.
Kolam suci ini dipercaya mengandung mukjizat. Airnya tidak pernah meluap, tapi juga tidak kunjung habis. Air suci inilah lazim diberikan kepada orang-orang usai sembahyang, agar memperoleh berkah sesuai karma masing-masing.
Griya Kongco Dwipayana merayakan ulangtahun setiap 9/9-penanggalan cina. Sedangkan Dewi Chi Sian Nii dirayakan pada 7/7 setiap tahunnya.
Selengkapnya...
Senin, 07 September 2009
Puri Agung Karangasem

Seperti diketahui, Kerajaan Karangasem memiliki beberapa puri yang merupakan pusat kekuasaan untuk mejalankan pemerintahan. Selain sebagai pusat pemerintahan, puri juga merupakan tempat tinggal raja serta para abdi kerajaan. Salah satu puri yang merupakan peninggalan Kerajan Karangasem adalah Puri Agung Karangasem, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Puri Maskerdam.
Puri Karangasem berada di tengah kota Amlapura, ibukota karangasem. Sekitar 78 km ke arah timur Denpasar. Letaknya tidak jauh dari Puri Gede Karangasem. Puri Agung Karangasem dibangun pada abad ke-19 oleh Anak Agung Gede Jelantik, raja pertama Kerajaan Karangasem.
Daya tarik utama Puri Agung ini adalah arsitektur bangunannya yang merupakan perpaduan antara arsitektur Bali, China dan eropa. Arsitektur Bali dapat dilihat pada ukiran Candi, Patung dan Relief wayang pada dinding bangunan. Sementara pengaruh Eropa terlihat dari bentuk bangunan induk dan beranda yang luas dengan nama Maskerdam. Arsitektur China terletak pada motif ukiran pada pintu, jendela dan ornamen bangunannya.
Selain perpaduan beberapa arsitekturnya, Puri Agung Karangasem juga meiliki ciri khas berupa pada candi-candinya yang menjulang tinggi mencapai 25 meter. Candi candi ini terbuat dari batu bata, dihiasi cetakan motif wayang. Di depan candi diletakkan sepasang patung singa dan sepasang patung penjaga pintu
Puri Agung Karangasem terdiri dari 3 bagian yaitu halaman pertama disebut Bencingah, halaman kedua adalah Jaba Tengah dan halaman paling dalam bangunan utama bernama Maskerdam. Di Bencingah, terdapat dua buah bangunan yang kamar-kamarnya disediakan untuk para tamu yang diundang. Tempat ini biasanya digunakan untuk kegiatan pertunjukan tradisional.
Untuk mencapai Jaba Tengah kita akan memasuki pula pintu gerbang dengan candi yang tinggi dan diapit pula oleh sepasang patung penjaga pintu dan sepasang patung singa dikiri kanan pintu masuk. Di halaman Jaba Tengah digunakan sebagai taman. Dihalaman ini kita akan menjumpai pohon leci yang umurnya sudah tua, serta sebuah kolam air yang ditengah-tengahnya terdapat gili yang dipinggirnya dihiasi patung-patung dan pot bunga besar.
Halaman paling dalam adalah dimana bangunan utama yang bernama Maskerdam berada. Pemberian nama maskerdam ada kaitannya dengan nama kota Amsterdam di negeri Belanda. Disebutkan, saat pembangunan gedung utama tersebut sedang terjalin hubungan baik antara Raja Karangasem dengan Kerajaan Belanda. Bangunan induk ini digunakan sebagai istana raja. Sementara bangunan yang terletak di belakang Maskerdam disebut"London", digunakan sebagai tempat tinggal keluarga raja. Pemberian nama London, karena Kota London di Inggris bertetangga dengan kota Amsterdam di Negeri Belanda.
Di depan istana Maskerdam terdapat sebuah bangunan bernama "Bale Pemandesan", yang berfungsi untuk tempat upacara potong gigi dan tempat menyimpan sementara jenasah para keluarga puri yang meninggal sampai upacara pelebon dilaksanakan. Di dekat bale pemandesan menghadap ke kolam, terdapat patung singa bersayap yang besar.
Di depan Bale Pemandesan terdapat "Bale Pewedaan" atau "Bale Lunjuk" tempat para pendeta memuja bila ada upacara keagamaan.
Di depan komplek Maskerdam terdapat "Bale Kambang" atau Gilii di tengah-tengah kolam air. Bale Kambang ini berfungsi untuk tempat rapat keluarga besar puri.
Di sebelah Selatan kolam terdapat bangunan tua bernama "Bale Werdastana". Pembangunan Bale Werdastana ini kala itu dilaksanakan oleh orang-orang China. Karenanya bangunan ini seluruhnya menggunakan arsitektur dan motif China. Namun sayang, bangunan ini telah hancur karena usia tua dan terutama karena akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1979.
Layaknya bangunan Bali lainnya, Puri Agung Karangasem juga memiliki sebuah tempat pemujaan keluarga berupa pamerajan. Saat ini Puri Agung Karangasem dikelola sebuah yayasan bernama Amertha Jiwa. Yayasan ini dibentuk oleh keluarga besar puri dan pengurusnya juga dari keluarga puri.
Puri Agung Karangasem, hanyalah satu dari sekian banyak peninggalan penting bersejarah, yang dimiliki Bali. Semakin kita mengenal sejarah, semoga rasa bangga akan pulau dewata tercinta ini akan semakin bertambah pula. Sehingga akn muncul kesadaran untuk melestarikan dan merawat Pulau para dewata ini....
Selengkapnya...
Sabtu, 29 Agustus 2009
Brahma Vihara Arama
Selama ini orang lebih banyak mengenal Bali identik dengan Hindu. Tidak banyak yang menaruh perhatian bahwa bali memiliki komunitas lain yang hidup rukun berdampingan dengan masyarakat hindu, yakni Budha. Nah kali ini kami akan mengajak anda untuk berkunjung ke salah satu tempat suci umat Budha di Kabupaten Buleleng. Namanya Brahma Vihara Arama.
Brahma Vihara Arama ini terletak di ketinggian perbukitan di desa tegehe kecamatan banjar kabupaten buleleng. Vihara yang memiliki pemandangan indah berupa perbukitan, gunung dan laut lepas ini, merupakan vihara pertama di Bali yang didirikan Bante Girri Rakhito Mahatera. Seorang Bikku keturunan Brahmana di Banjar.
Memasuki Brahma vihara Arama tak ubahnya seperti memasuki sebuah Pura. Karena desainnya sangat disesuaikan dengan arsitektur Bali. Halaman yang terbagi 3 yakni nista, madya dan utama mandala dihubungkan dengan anak tangga yang bertuliskan prinsip-prinsip ajaran budha.
Brahma vihara Arama memiliki sebuah tiruan borobudur dengan 5 stupa di bagian puncak. Saat prayaan hari besar umat budha, maka ribuan orang akan memenuhi tempat ini untuk melakukan pemujaan.
Selain itu, Brahma Wihara Arama juga terkenal sebagai tempat meditasi Vipasana. Meditasi untuk pencerahan. Hampir setiap hari tempat ini didatangi orang orang yang ingin mencapai ketenangan dan pencerahan lewat meditasi.
Tidak ada larangan bagi wanita haid maupun yang memiliki kematian dalam keluarga untuk datang ke Brahma Wihara Arama. Yang lebih menarik, Brahma Vihara Arama terbuka bagi siapa saja asalkan memiliki niat baik untuk mengetahui ajaran budha yang universal.
Selengkapnya...
Tenganan Pegringsingan, Manggis - Karangasem
.jpg)
Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Sejak berabad abad, desa tua ini tetap menerapkan sistem pola menetap masyarakat bali aga atau bali asli. sampai saat inipun semua tata cara pengelolaan desa dan kependudukan, masih mengacu pada tradisi yang diwariskan leluhur mereka. Tradisi megalitik sangat erat dengan kehidupan mereka sehari hari.
Desa Tenganan Pagringsingan yang kemudian disebut Pegringsingan saja, adalah sebuah desa kuno yang wilayahnya di bagi tiga yakni perkampungan, daerah Hutan Lindung, dan kawasan pertanian. Di wilayah perkampungan dibuat petak-petak yang sama besar dengan bangunan berbentuk sama pula. Sementara hutan lindung yang mengelilingi perkampungan juga menjadi milik bersama. Semua hasilnya akan menjadi milik adat. Begitu pula tanah pertanian yang tidak bisa menjadi milik pribadi.
Tenganan juga masih memelihara tempat tempat suci, pemujaan, serta adapt istiadat yang berasal dari jaman megalithic. Leluhur orang tenganan dipercaya berasal dari daerah Peneges. Ada beberapa monolit atau candi yang bisa kita temui di Tenganan. Candi atau monolit ini berkaitan dengan cerita asal muasal tenganan .
Keunikan yang bisa dilihat langsung di Tenganan adalah pola menetap masyarakatnya. Perkampungan dikelilingi semacam tembok seperti benteng. Terdapat 4 pintu di empat penjuru mata angin untuk masuk ke wilayah ini. Namun pintu masuk utamanya adalah dari arah selatan, dari desa Pasedahan.
Begitu memasuki tenganan kita akan berhadapan dengan jalan desa yang disebut Awangan. Awangan tersebut berundak undak, semakin keutara semakin tinggi. Ada tiga awangan disini yakni barat tengah dan timur. Awangan ini juga membagi tenganan ke dalam 3 banjar yakni Br kauh, Br Tengah dan Br Kangin atau Br Pande.
Satu kapling perumahan, ditempati oleh satu kepala keluarga. Luas petak sama besar, dan bangunannya pun sama, terdiri dari bale meten, bale tengah, bale bunga, dan paon. Yang menarik, selain memiliki luas yang sama, 1 kapling rumah hanya ada satu pintu keluar yang semuanya menghadap ke awangan.
Di Tenganan, kehidupan penduduk sangat diatur oleh awig-awig desa setempat. Misalnya setiap ada keluarga baru, 3 bulan setelah menikah mereka harus memisahkan diri dari orang tua dan menempati kapling baru yang disiapkn oleh desa. Hingga saat ini pertumbuhan penduduk tenganan sangat stabil. Artinya jumlah kematian dan kelahiran nyaris seimbang.
Sanksi sanksi juga diterapkan bagi mereka yang melaggar ketentuan ketentuan adat. Seperti bagi mereka yang menikah dengan orang luar yang bukan orang tenganan. Baik laki-lakinya yang menikahi perempuan non tenganan maupun perempuan tenganan yang menikahi laki-laki yang bukan asli tenganan. Semua ada sanksinya.
Selain berbeda pola menetap, Tenganan juga memiliki perbedaan dalam menjalankan adat dan ritual keyakinan mereka. Masyarakat Tenganan menyetarakan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Desa juga memiliki lembaga legislatif desa yang menjadi peran utama dalam setiap pengambilan keputusan dan pelaksanaan upacara maupun ritul adt tenganan.
Masyarakat Desa Tenganan memiliki beberapa upacara adat dalam setahunnya. Namun yang terbesar adalah pada bulan atau sasih ke 5, yang disebut NGUSABA SAMBAH. Sekitar bulan juni atau juli. Upacara ini merupakan upacara yang merefleksikan seluruh perbuatan selama setahun. Dalam upacara ini terdapat sebuah atraksi yag selanjutnya menjadi salah satu daya tarik Desa Tenganan yakni Perang Pandan atau mekare-kare.
Saat Ngusaba Sambah, semua komponen masyarakat Tenganan terlibat didalamnya. Menurut adat, hanya Truna sebutan bagi remaja pria, yang berperang dengan senjata seikat pandan. Namun karena semangat ingin meramaikan, maka tua maupun anak-anak juga bersemangat mengikuti atraksi ini. Inilah duel lelaki Tenganan. Diiringi tetabuhan suci selonding, Berbekal pandan dan tamiang, mereka siap bertarung dalam sebuah lingkaran. Sasarannya adalah bagian punggung. Namun tidak menutup kemungkinan duri pandan juga akan melukai bagian tubuh lainnya seperti perut dan wajah.
Ketika perang usai, luka akibat pandan tai akan dibaluri semaca boreh sebagai obatnya. Boreh boreh tersebut sebelumnya telah disiapkan oleh para daha- sebutan para gadis tenganan. Ramuan ini diantaranya terdiri dari campuran isen, kunir dan cuka. Perang pandanpun berakhir.
Semua adat dan budaya masih hidup di Tenganan. Pakaian adat salah satunya. Semuanya seragam sehingga nyaris tak ada perbedaan antara satu dengan yang lain. Termasuk kain geringsing yang terkenal itu. Kain kuno yang ditenun secara tradisional ini. Semuanya tetap terjaga rapi.
Meski arus dunia pariwisata menerpa tenganan sejak berpuluh tahun lalu, tenganan secara adat tidak pernah berubah. Para turis, walau diperlakukan layaknya tamu, tak pernah dimintai apa-apa. Masyarakat tenganan tetap beraktivitas seperti biasa, termasuk menjajakan barang-barang seni di areal pekarangan rumahnya masing-masing. Waktu akan terus bergulir.beberapa tahun lagi kita akan kembali ke Tenganan untuk membuktikan, seberapa kuat pertahanan mereka....
Selengkapnya...
.jpg)