Senin, 07 September 2009

Puri Agung Karangasem


Seperti diketahui, Kerajaan Karangasem memiliki beberapa puri yang merupakan pusat kekuasaan untuk mejalankan pemerintahan. Selain sebagai pusat pemerintahan, puri juga merupakan tempat tinggal raja serta para abdi kerajaan. Salah satu puri yang merupakan peninggalan Kerajan Karangasem adalah Puri Agung Karangasem, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Puri Maskerdam.

Puri Karangasem berada di tengah kota Amlapura, ibukota karangasem. Sekitar 78 km ke arah timur Denpasar. Letaknya tidak jauh dari Puri Gede Karangasem. Puri Agung Karangasem dibangun pada abad ke-19 oleh Anak Agung Gede Jelantik, raja pertama Kerajaan Karangasem.

Daya tarik utama Puri Agung ini adalah arsitektur bangunannya yang merupakan perpaduan antara arsitektur Bali, China dan eropa. Arsitektur Bali dapat dilihat pada ukiran Candi, Patung dan Relief wayang pada dinding bangunan. Sementara pengaruh Eropa terlihat dari bentuk bangunan induk dan beranda yang luas dengan nama Maskerdam. Arsitektur China terletak pada motif ukiran pada pintu, jendela dan ornamen bangunannya.

Selain perpaduan beberapa arsitekturnya, Puri Agung Karangasem juga meiliki ciri khas berupa pada candi-candinya yang menjulang tinggi mencapai 25 meter. Candi candi ini terbuat dari batu bata, dihiasi cetakan motif wayang. Di depan candi diletakkan sepasang patung singa dan sepasang patung penjaga pintu

Puri Agung Karangasem terdiri dari 3 bagian yaitu halaman pertama disebut Bencingah, halaman kedua adalah Jaba Tengah dan halaman paling dalam bangunan utama bernama Maskerdam. Di Bencingah, terdapat dua buah bangunan yang kamar-kamarnya disediakan untuk para tamu yang diundang. Tempat ini biasanya digunakan untuk kegiatan pertunjukan tradisional.

Untuk mencapai Jaba Tengah kita akan memasuki pula pintu gerbang dengan candi yang tinggi dan diapit pula oleh sepasang patung penjaga pintu dan sepasang patung singa dikiri kanan pintu masuk. Di halaman Jaba Tengah digunakan sebagai taman. Dihalaman ini kita akan menjumpai pohon leci yang umurnya sudah tua, serta sebuah kolam air yang ditengah-tengahnya terdapat gili yang dipinggirnya dihiasi patung-patung dan pot bunga besar.

Halaman paling dalam adalah dimana bangunan utama yang bernama Maskerdam berada. Pemberian nama maskerdam ada kaitannya dengan nama kota Amsterdam di negeri Belanda. Disebutkan, saat pembangunan gedung utama tersebut sedang terjalin hubungan baik antara Raja Karangasem dengan Kerajaan Belanda. Bangunan induk ini digunakan sebagai istana raja. Sementara bangunan yang terletak di belakang Maskerdam disebut"London", digunakan sebagai tempat tinggal keluarga raja. Pemberian nama London, karena Kota London di Inggris bertetangga dengan kota Amsterdam di Negeri Belanda.

Di depan istana Maskerdam terdapat sebuah bangunan bernama "Bale Pemandesan", yang berfungsi untuk tempat upacara potong gigi dan tempat menyimpan sementara jenasah para keluarga puri yang meninggal sampai upacara pelebon dilaksanakan. Di dekat bale pemandesan menghadap ke kolam, terdapat patung singa bersayap yang besar.
Di depan Bale Pemandesan terdapat "Bale Pewedaan" atau "Bale Lunjuk" tempat para pendeta memuja bila ada upacara keagamaan.

Di depan komplek Maskerdam terdapat "Bale Kambang" atau Gilii di tengah-tengah kolam air. Bale Kambang ini berfungsi untuk tempat rapat keluarga besar puri.
Di sebelah Selatan kolam terdapat bangunan tua bernama "Bale Werdastana". Pembangunan Bale Werdastana ini kala itu dilaksanakan oleh orang-orang China. Karenanya bangunan ini seluruhnya menggunakan arsitektur dan motif China. Namun sayang, bangunan ini telah hancur karena usia tua dan terutama karena akibat gempa bumi yang terjadi pada tahun 1979.

Layaknya bangunan Bali lainnya, Puri Agung Karangasem juga memiliki sebuah tempat pemujaan keluarga berupa pamerajan. Saat ini Puri Agung Karangasem dikelola sebuah yayasan bernama Amertha Jiwa. Yayasan ini dibentuk oleh keluarga besar puri dan pengurusnya juga dari keluarga puri.

Puri Agung Karangasem, hanyalah satu dari sekian banyak peninggalan penting bersejarah, yang dimiliki Bali. Semakin kita mengenal sejarah, semoga rasa bangga akan pulau dewata tercinta ini akan semakin bertambah pula. Sehingga akn muncul kesadaran untuk melestarikan dan merawat Pulau para dewata ini....
Selengkapnya...